Thursday, September 15, 2011

PEGANGAN PENGAJARAN

PEGANGAN PENGAJARAN

1.      Mengenal Gereja
1.      Kami percaya bahwa Roh Kudus menghimpun umat-Nya dari segala suku bangsa, kaum dan bahasa ke dalam suatu persekutuan, yaitu Gereja dimana Hamashiah adalah Kepala (Wahyu 7:9); Efesus 4:5-16; Kisah Para Rasul 2:41). Gereja terdiri dari orang-orang berdosa yang telah dibenarkan oleh anugerah YAHWEH Elohim berdasarkan Iman kepada Y’Shua Hamashiah (Roma3:28), selalu merupakan pertobatan yang terus-menerus. Untuk itu gereja senantiasa memerlukan bimbingan pemeliharaan dan teguran Roh Kudus yang terus menerus membaharui, membangun dan mempersatukan untuk mencapai kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Hamashiah (Efesus 4:13-14).
Kekristenan
Am
Kesucian
Keesaan
Gereja harus tetap berada di tengah jalan; tidak boleh ada perhentian. Gereja pasti akan tetap berada di tengah jalan; keadaan sempurna tak dapat dicapai di dunia ini. Gereja akan tetap di tengah jalan hingga terbitnya hari Tuhan, ketika kerajaan-Nya dinyatakan. Rahmat YAHWEH Elohim akan sia-sia dan mengecewakan andaikata hanya diperoleh satu kali saja, itu dapat disaksikan oleh setiap orang saleh mengenal dirinya sendiri, sebab setiap orang sepanjang hidupnya selalu menyadari banyak kelemahan yang memerlukan kemurahan YAHWEH Elohim, mereka harus menyadari bahwa untuk dosa-dosa mereka selalu ada pengampunan. Maka hendaklah kita masing-masing menyadari bahwa kita harus mencari pengampunan dosa hanya di tempat Tuhan menaruhnya.
2.      YAHWEH Elohim menjadikan Gereja itu sebagai suatu persekutuan yang mengaku satu YAHWEH Elohim, satu Tuhan, satu Baptisan (Efesus 4:5-6). Dengan demikian Gereja itu Esa. Keesaan Gereja bukanlkah Kesesaan menurut pola dunia, melainkan Keesaan seperti Keesaan YAHWEH Elohim Bapa,  YAHWEH Elohim Anak, YAHWEH Elohim Roh Kudus (Yohanes 17:21-22). Maka Keesaan itu didasarkan pada kekuasaan duniawi, melainkan pada persekutuan dan kasih (Filipi 2:1-4). Hamashiah menghendaki Keesaan seperti itu, yang merupakan suatu kesaksian kepada dunia ini agar dunia percaya bahwa sesungguhnya Y’Shua Hamashiah telah diutus oleh YAHWEH Elohim (Yohanes 17:21-22).
Bahwa Gereja satu adanya diseluruh muka bumi, sekalipun teroencar.- Jadi kesatuan ini adalah kesatuan didalam Kristus, kesatuan di dalam Kebenaran. Maka itu segala Gereja yang mengaku percaya kepada Y’Shua Hamashiah harus berusaha untuk mewujutkan kesatuan jemaat (Gereja) Tuhan dengan dasar yang telah terletak di dalam Tuhan Sendiri. Kerap kali orang-orang beriman tiada sadar akan kesatuan Gereja ini. Sering kali kesatuan itu diakui dengan kata-kata, tetapi disangkal dengan perbuatan-perbuatan. Namun kesatuan Jua, ia tidak dapat dipisahkan. Kerap kali kesatuan itu dialami dan diakui sebagia mujizat dari pohon anggur yang sejati, yakni Hamashiah (Yohanes 15). Untuk menganut kesatuan Gereja dengan cara demikian, kita sama sekali tidak perlu melihat Gereja itu dengan mata kita atau merabanya dengan tangan kita sendiri. Tetapi bila dikatakan bahwa kita harus percaya kesatuan itu, kita diperingatkan jangan sampai kita baru menyakinkan kesatuan itu apabila menampilkan diri pada kita dengan jelas.  
3.      Persekutuan itu di Kuduskan dalam Kebenaran (Yohanes 17:17-19). Dengan demikian Gereja itu Kudus, Pengudusan itu dilakuakn oleh Hamashiah yang telah menguduskan dirinya bagi Geraja (Yohanes 17:19) dan menguduskan Gereja itu sebagai umat kepunyaanNya (Titus 2:14) Persekutuan yang dikuduskan itu diutusNya kedalam dunia. Maka Gereja ada didunia tetapi bukan dari dunia (Yohanes 17:14-18). Apa artinya suci? Bahwa Gereja adalah suatu jajahan (baca: dalam Kuasa, Kedaulatan) YAHWEH Elohim. Dalam nama kitab suci, Permandian (baca : Baptisan) dan Perjamuan Kudus dijalani dan Roh Suci bekerja (Efesus 5:27). Suci karena asal mulanya dari YAHWEH Elohim. Hamashiah itu Kesucian kita (1 Korintus 1:30). Jadi suci bukan berarti bahwa anggota-anggota Gereja sesuci adanya. Sebaliknya mereka adalah orang-orang berdosa yang hidup hanya dari anugerah YAHWEH Elohim saja. Hal ini amat mengherankan sebab apabila kita meninjau kehidupan anggota-anggota Gereja, maka akan kita ketahui betapa banyak kelemahan dan cela-cela, dosa-dosa dan kesalahna-kesalahan (dibandingkan Wahyu 2.3). Kekudusan Gereja tidak terletak pada anggota-anggota Gereja dan perbuatannya. Kekudusan Gereja berdasarkan Tuhan Y’Shua  dan Roh Kudus dan DIA yang oleh Tuhan Y’Shua disebut: BAPA yang Kudus (Yohanes 17). Orang-orang mengemukakan pula bahwa bukanlah tanpa alasan bila Gereja disebut “KUDUS” oleh sebab itu perlu diselidiki, manakah Kekudusan yang merupakan keunggulan Gereja. Karena kalau kita baru mau mengakui suatu Gereja jika sempurna dalam segala hal, tidak satupun Gereja tersesat. Kekudusan Gereja belum sempurna. Gereja adalah Kudus dalam arti setiaphari ia maju, tetapi belum sempurna; bahwa tiap hari ia melangkah, tetapi belum sampai pada Kekudusan yang menjadi tujuannya. Yang kita artikan seakan-akan dalam anggota-anggota Gereja itu tidak satupun noda yang tertinggal; tetapi oleh karena dengan tekun mengajar Kesucian dan kemurnian yang sempurna itu, maka Kesucian yang belum semuanya mereka peroleh, oleh Rahmat YAHWEH Elohim di anggap sudah mereka punyai selain penjelasan di atas, maka perlu kita mengingat bahwa perkataan “KUDUS” dalam istilah Teologia bukan terutama dengan tekanan arti Suci, yaitu: Tidak Bercela, Bersih dari kelemahan, kesalahan dan Tidak Bernoda. Melainkan terutama dengan tekanan arti: disendirikan bagi YAHWEH Elohim atau menjadi milik YAHWEH Eohim.    
4.      Persekutuan itu mencakup semua orang percaya dari segala tempat dan sepanjang zaman dan mencakup segala suku bangsa, kaum dan bahasa. Dengan demikian Gereja Katholik (am). Sebab Hamashiah telah memerintahkan agar segala bangsa dituntun dan menjadikan murid yang percaya dan taat kepada nama-Nya (Matius 28:19) “Am” berarti: Umum. Jadi, Gereja yang am ialah: Jemaat (Gereja atau tubuh Hamashiah) yang meliputi segala orang yang mengaku, percaya kepada Tuhan dan Juruselamat yang adalah Y’Shua Hamashiah. Yang ,enjadi satu-satunya kepala atas Gereja-Nya. Inilah mujizatyang menjadi dasar kehidupan Gereja sepanjang masa, orang-orang dari pelbagai bangsa, jenis, warna kulit, lapisandan golongan, tiap-tiap kali mengalami keajaiban ini yakni bahwa dinding-dinding pemisah telah lenyap karena Y’Shua Hamashiah Tuhan. Gereja menjadi panggilan dan tugas Gereja, supaya tiap-tiap kali menyatakan dan membuktikan bahwa segala orang beriman berwujudkan persekutuan dan mereka semua merupakan suatu Gereja yang am. Gereja itu dinamakan “Katholik” atau “Am”, sebab tidak mungkin didapati dua atau tiga Gereja tanpa membuat Hamashiah terbagi-bagi; satu hal yang mustahil. Orang-orang pilihan YAHWEH Elohim malahan semuanya sedemikian bertalian didalam Hamashiah menjadi satu tubuh dan saling bersangkutan bagaikan anggota-anggota dari satu tubuh. Mereka benar-benar dibuat menjadi satu Iman, Pengharapan dan Kasih oleh Roh YAHWEH Elohim yang sama. Kita tidak menciptakan suatu Gereja yang am oleh karena usaha pekabaran Injil yang meliputi seluruh dunia, akan tetapi Gereja am. Hal itu bukanlah kesimpulan yang timbul dari sejumlah fakta-fakta serta keadaan yang kelihatan, malainkan Gereja itu am karena pekerjaan Y’Shua Hamashiah yang menjadi kepala-Nya.
5.      Persekutuan itu bertekun didalam dan dibangun diatas ajaran Para Rasul tentang Injil Y’Shua Hamashiah (Kisah Para Rasul 2:42; Efesus 2:20 dengan demikian Gereja itu Rasuli. Persekutuan yang Rasuli itu terpanggil untuk memelihara dengan murni ajaran Para Rasul (2 Tesalonika 2:16; 1 Tesalonika 1:3) dan meneruskannya kepada semua orang percaya disegala temapt dan disepanjang zaman (Filipi 1:6; Kolose 1:25) Para Rasul merupakan panitera yang pasti dan asli dari Roh Kudus dank arena itu tulisan-tulisan mereka harus diterima sebagai ucapan YAHWEH Elohim, akan tetapi pelayan-pelayan yang menggantikan mereka tidak mempunyai tugas selain dari pada mengajar apa yang telah dinyatakan dan dicatat didalam kitab-kitab Suci ditentukan YAHWEH Elohim supaya semua orang tanpa kecuali tunduk kepada-Nya. Kata sifat “Rasuli” (Apostolis) artinya Gereja itu bersifat Rasuli (Bahasa Yunani “Apostolos” berarti Rasul atau Utusan) maksudnya ialah;
5.1  Gereja telah dibangun atas dasar Kesaksian Para Rasul mengenai Y’Shua Hamashiah.
5.2  Oleh sebab itu di tempatkan di dunia ini untuk meneruskan Pemberitaan Injil tentang Y’Shua Hamashiah. Mustahil jika Gereja selama kita berusaha untuk “membereskan dulu” soal-soal intern. Sebab, justru “Kerasulan” atau “Apostolat” itulah yang mencirikan hakekat Gereja sedalam-dalamnya.
6.      Oleh karena itu  Gereja-Gereja dan orang-orang percaya disegala temapt dan disepanjang zaman terpanggil untuk mewujudkan Keesaan, Kekudusan, Kekatholikkan dan Kerasulan Gereja itu, baik dalam kehadiran Gereja secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Dengan demikian semua bentuk kehadiran Gereja adalah sidang (baca : Persekutuan) yang dihimpun oleh Roh Sucidisekitar alat-alat keselamatan (baca : Kitab Suci, khotbah, Sakramen) dan yang bersaksi tentang keselamatan itu di dunia ini. Gereja bukan suatu perkumpulan yang didirikan dan direncanakan oleh manusia. Gereja ada oleh karena YAHWEH Elohim memanggil orang-orang datang kepada keselamatanNya.
7.      Meskipun bentuk kehadiran Gereja sendiri-sendiri itu berbeda-beda dibanyak tempat dan disepanjang zaman, tetapi kita percaya bahwa semuanya mengungkapkan suatu kenyataan tubuh Hamashiah di dunia ini (Roma 12:4, dst, 12:12 dst; Kolose 1:18-24; Efesus1:22dst ; 5:23,29dst) dan oleh sebab itu setiap orang yang percaya dan menyerahkan diri kepada Hamashiah, tidak bias berbuat lain kecuali terhisap dan menghisapkan diri dalam tubuh Hamashiah.
Gereja adalah milik Hamashiah, maka hidup Gereja dari anugerah Hamashiah, dan berdiri di bawah pemerintahan Hamashiah. Maka Gereja disebut juga tubuh Hamashiah yang tidak dapat terpisah dari kepala (1 Korintus 12:27; Kolose 1:18; Efesus 5:23).
Selanjutnya, keselamatan diteguhkan karena berkaitan dengan keteguhan Hamashiah, yang tidak membiarkan orang-orang yang percaya kepadaNya direnggut dari diriNya, sebagaimana  juga tidak akan dibiarkan-Nya anggota-anggotaNya sendiri dicabut dan dicabik-cabik. Kita yakin bahwa kebenaran akan tetap tinggal dalam rahim Gereja, bahwa kita mengambil bagian dalam Gereja bahkan membuat kita bersama dengan YAHWEH Elohim. Memisahkan diri dari Gereja berarti mengingkari YAHWEH dan HAMSHIAH.
Mengaku terhisap kepada Gereja berarti: percaya bahwa didalam Gereja ini Y”Shua Hamashiah berkenan tinggal bersama-sama dengan kita orang-orang berdosa; bahwa ia hendak mempergunakan kita sebagai saksi-saksiNya di dunia ini.
8.      Selain segi-segi essensial dari Gereja yang muncul dari hakekatnya, yakni panggilan dan tugasnya; maka perwujudan Gereja dalam bentuk kelembagaan yang kongkrit di dunia ini memegang peranan yang penting sebagi wujud kehadiran dan kesaksiannya kepada dunia. Bentuk kelembagaan Gereja itu mulai muncul sejak Gereja mula-mula di Zaman Para Rasul (Kisah Para Rasul 15:21; 1 Korintus 1:2; Galatia 1:2; Filipi 1:1; Wahyu 1:4) dan pemantapan serta perkembangannya berlanjut dalam sejarah Gereja yang lebih kemudian. Namun sesuai dengan kesaksian Perjanjian Baru lembaga itu adalah lembaga Gereja dan bukan lembaga lainnya. Bila kita membaca kesaksian Perjanjian Baru, sepintas lalu kita banyak dikesankan tentang pekerjaan missioner individual yang independen dari Gereja. Misalnya pekerjaan Stefanus terhadap orang-orang Yahudi, pekerjaan Filipus terhadap sida-sida dari Ethiopia, pekerjaan Petrus terhadap Kornelius, pekerjaan Paulus terhadap orang-ornag non-Yahudi dan lain-lain. Namun dalam beberapa kesempatan dinyatakan juga secara eksplisit bahwa pekerjaan-pekerjaan missioner itu dipertanggung jawabkan kepada Gereja (Kisah Para Rasul 15:21) dan surat-surat Paulus serta surat Gembala member kesan suasana Kegerejaan. Lebih dalam arti itu, ialah kesadaran kita terhadap fakta historis bahwa Perjanjian Baru keseluruhannya ditulis dalam masa gereja Purba (mula-mula) dan oleh orang-orang Gereja Purba (generasi orang Kristen pertama), artinya Perjanjian Baru ditulis setelah Gereja Purba terbentuk yakni dalam peristiwa pentakosta (Kisah Para rasul 2). Oleh sebab itu keseluruhan Perjanjian Baru merupakan pesan-pesan Firman YAHWEH Elohim dalam konteks Gereja Purba. Hal ini menunjukan bahwa sifat independen sebagiamana lazimnya kita perkiraan. Malahan pertanggung jawaban Petrus dan Paulus mengenai pekerjaan missioner mereka kepada Gereja member kesan sukacita besar sesuai dengan sifat Injil, dimana pergumulan mereka merupakan juga pergumulan Gereja dan sebaliknya. Gereja Hamashiah di dunia ini mempunyai juga bentuk yang berwujud dan menyatakan dirinya juga dalam Gereja ini, yang segala kekurangannya kita ketahui benar-benar.
9.      Kelembagaan Gereja yang membawa dalam dirinya segala sifat yang dianugerahkan Tuhan kepada Gereja  meliputi: Keanggotaan, Penyelenggaraan ibadah dan pemberitaan Firman, penyelenggaraan sakramen, penyelenggaraan pengembalaan dan pengajaran, kepejabatan dan kepemimpinan Gereja yang keseluruhannya diatur sebagai Tata Gereja. Bila kita perhatikan Gereja yang mula-mula maka selain segi ritualnya, maka Gereja juga memiliki cirri kelembagaan betapapun sederhananya; pejabat-pejabat (Kisah Para Rasul 6:1; Titus 1:5; 1 Pertus 5:1), pembagian tugas (Kisah para rasul 6:3-4), pengatur-pengatur persembahan (Kisah Para rasul 4:34-35), perundingan-perundingan (Kisah Para Rasul 11; 15:6,22). Tak kurang dari itu, anggota-anggota yang harus ditambahkan Tuhan kepada mereka (Kisah Para Rasul 2:41, 47). Kemudian hari kelembagaan Gereja menjadi lebih structural karena dipaksa oleh keadaan (ancaman Romawi dan Yahudi) dan menjadi ekstrim structural pada Gereja Barat dan Timur. Pada zaman reformasi sifat kelembagaan Gereja dikembalikan pada keseimbangan. Gereja-Gereja di Indonesia mewarisi pemahaman eklesiologi reformis ini; pada satu pihak adalah benar bahwa Gereja Merupakan persekutuan orang-orang percaya artinya asal saja dua-tiga orang Kristen berkumpul ia sudah ditandai oleh Esensi Gerejawi. Namun dilain pihak adalah benar juga bahwa Gereja merupakan persekutuan dengan Tata Gereja pelayanan sakramen-sakramen, pelaksanaan disiplin gereja (pengembalaan khusus) pentahbisan pejabat-pejabat Gerejawi, persidangan-persidangan Gerejawi, keanggotaan Gerejawi, serta simbol-simbol Gerejawi lainnyadan terutama kondisi yang berkaitan dengan tempat /lokasi dimana ia ditempatkan oleh Tuhan.       
10.  Kelembagaan Kristen di luar Gereja dalam satu dan lain cara wajib berkaitan atau berpangkal kepada Gereja yang adalah tubuh Hamashiah satu-satunya di dunia, kelembagaan Kristen diluar Gereja dipahami sebagia perluasan fungsi kesaksian dan pelayanan Gereja dan tidak dapat dipahami sebagai sikap anti dan reaksi terhadap kelemahan yang ada pada Gereja, sebab sesungguhnya tak ada Gereja yang sempurna dalam dunia ini. Dengan pembakuan kondisi-kondisi sebagai Gereja tersebut, maka terdapat perbedaan antar yang disebut Gereja dan lembaga Kristen non-Gereja. Gerejalah yang kita pahami sebagai manifestasi tubuh Hamashiah di dunia. Disini hendak ditekankan bahwa Perjanjian Baru tidak pernah menyebut agen lain sebagai tubuh hamashiah selain dari pada Gereja. Maka janganlah kita terlalu enggan menghormati kuasa Gereja; dalam pada itu kuasa itu harus dijaga supaya tidak diluaskan kesegala arah, sesuai dengan tingkah laku manusia. Sejak dahulu kala hingga sekarang ini Gereja sebagai perkumpulan orang-orang beriman senantiasa menyatakan diri dalam bentuk organisasi tertentu. Sekarangpun Gereja-Gereja wajib berkumpul, berunding bersama-sama. Perundingan itu dapat diadakan pada rapat-rapat Klasis, Sinode, Sinode Oikumenis, bersama-sama merundingkan tugas dan penggilan Gereja pada zaman yang sedang mereka alami.

II. Mengenai Perjamuan Tuhan

1.      Perjamuan Tuhan ditetapkan oleh Tuhan Y’Shua sendiri untuk dirayakan sebagai peringatan akan DIA, untuk memberitahukan kematian Tuhan sampai IA datang (1 Korintus 11:23-26). Rasul Paulus meneruskan hal ini sebagai sesuatu yang diterima dari Tuhan kepada Jemaat Korintus (11:23), sesuai dengan perintah “…….perbuatlah ini menjadi peringatan akan AKU” (11:24).
2.      Jelas bahwa perintah itu ditunjukan kepada Gereja selaku tubuhNya (1 Korintus 11:18), untuk setiap kali mengadakan perayaan Perjamuan Tuhan. Berarti bahwa Gerejalah yang bertanggung Jawab utnuk menyelenggarakan Perjamuan tersebut.
3.      Dalam sejarahnya Perjamuan Tuhan mula-mula dipimpin oleh mereka yang diakui sebagai pemimpin yaitu rasul-rasul, bapa-bapa Gereja / uskup-uskup dan selanjutnya diwariskan kepada pemimpin-pemimpin oleh diurapi/ditahbiskan sampai sekarang. Ketentuan yang berlaku adalah: Perjamuan Tuhan yang diselenggarakan dibawah tanggung jawab Majelis Jemaat yaitu pendeta dan tua-tua/diaken.
4.      Roti dan Anggur Perjamuan Tuhan adalah tanda meterai dari tubuh dan darah Hamashiah yang dikorbankan di kayu salib untuk keampunan dosa. Roti an Anggur itu selama dan sesudah perjamuan itu adalah makanan biasa dan tidak pernah menjadi benda-benda yang mengandung kuasa/khasiat tertentu. Dengan Perjamuan Tuhan Jemaat diajak untuk menerima kenyataan bahwa Hamashiah mau berdiam didalam dan menjadi bagian dari kehidupan

Kesimpulan

1.      Pelayanan Perjamuan Tuhan harus dilakukan ditengah dan didalam kebaktian Jemaat, maka tidak ada alasan untuk menyelenggarakan di luar kebaktian, kecuali bagi mereka yang tidak mungkin mengikuti karena alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan.
2.      Penyelenggaraan Perjamuan Tuhan adalah Gembala Sidang sekalipun penyelenggaraannya dilakukan ditempat-tempat lain (misalnya: dipenjara, rumah sakit. Sewaktu persidangan gerejawi dan sebagainya) penyelenggaraannya tetap adalah gembala sidang yang ditunjuk untuk itu.
3.      Dengan demikian, Perjamuan Tuhan yang diselenggarakan bukan oleh Gembala Sidang dan pendeta tidak dapat dibenarkan.
4.      Membawa roti dan anggur Perjamuan Tuhan ke rumah dengan anggapan bahwa benda-benada itu mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit dan sebagainya juga tidak dapat dibenarkan karena berdasarkan pengertian yang salah tentang arti dan maksud Perjamuan Tuhan.

III. Mengenai Baptisan Kudus

1.      Dalam Gereja mula-mula Perjanjian Baru mencerminkan adanya kesan pemahaman terhadap dua macam baptisan, yakni: Baptisan Air dan Baptisan Roh. Sebagai dua hal yang terpisah.
Ada yang mula-mula Baptisan Air lalu menerima Baptisan Roh (Markus 1:8); Lukas 3:16; Kisah Para Rasul 8:16-17)
Ada yang mula-mula Baptisan Roh lalu menerima Baptisan Air (Kisah Para Rasul 10:44-47).
Tindakan Gereja mula-mula ini menunjukan belum adanya ketertiban dalam Baptisan yang satu dan utuh.
2.      Dalam perkembangan selanjutnya dari Gereja mula-mula. Perjanjian Baru sendiri mencerminkan adanya ketetapan yang utuh, dan satu mengenai Baptisan (Efesus 4:5; l Korintus 12:13) karena hal itu disesuaikan dengan Baptisan Y’Shua (Lukas 3:21-22 dan paralelnya) serta Baptisan Paulus (Kisah Para Rasul 9:17-18).
Tindakan Gereja mula-mula yang lebih kemudian ini menunjukan ditetapkannya satu Baptisan secara utuh, sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Y’Shua (Matius 28:18-20).
3.      Kedudukan Baptisan dalam Gereja sejajar malahan lebih dalam dari sunat dalam Israel, yaitu sebagai tanda Perjanjian Anugerah YAHWEH Elohim.
3.1.    IA menjadi tanda Perjanjian YAHWEH Elohim dengan manusia (Kejadian 17:10). Baptisan adalah “Sunat Hati” yang lebih mendalam dan lengkap (Kolose 2:11).
3.2.   Baptisan merupakan pengukuhan yang dilakukan dalam tanggung jawab Gereja (Kisah Para Rasul 11:18).
Tindakan Gereja adalah memelihara Baptisan secara utuh dalam tanggung jawabnya sejak berabad-abad, sebagai tanda dan meterai suci yang diterapkan Tuhan.



IV. Mengenai Karunia-Karunia Roh

Dalam menetukan sikap terhadap gejala peentingan bahasa Lidah sebagai Karunia Roh, GPR berpegang kepada ajaran Rasul Paulus:
1.      Ketika di Jemaat Korintus terdapat gejala pementingan bahasa Lidah, Rasul Paulus mengirim surat 1 dan 2 Korintus untuk menggembalakan dan menertibkan jemaat tersebut.
2.      Terhadap anggapan bahwa Lidah adalah ciri pengenal Karunia Roh, Paulus menasehatkan bahwa Karunia-Karunia Roh ada banyak macamnya (1 Korintus 12:8-11, 28; 13:1).
3.      Terhadap anggapan bahwa orang yang tidak dapat berbahasa Lidah berarti ia belum menerima Karunia Roh, Paulus menasehatkan bahwa orang yang mengaku percaya kepada Y’Shua, itu sudah Karunia Roh (1 Korintus 12:13).
4.      Terhadap anggapan bahwa bahasa Lidah menguatkan dan membangun, Paulus menasehatkan bahwa siapa yang berbahasa Lidah ia hanya membangun dirinya saja (1 Korintus 14:4), pada hal yang perlu dibangun adalah kepentingan umum jemaat (1 Korintus 12:7). Suatu Karunia Roh diberikan untuk kepentingan umum (1 Korintus 14:3-5, 12, 17).
5.      Terhadap anggapan yang meragukan keabsahan Paulus karena ia tiadak berbahasa Lidah (lihat : 2 Korintus 10:12, 11:6). Paulus menasehatkan bahwa kalaupun ia berbahasa Lidah maka faedahnya sama sekali tidak ada untuk jemaat (1 Korintus 14:6, 19).
6.      Terhadap anggapan bahwa bahasa Lidah adalah tanda kematangan Iman, Paulus menasehatkan bahwa bahasa Lidah bukan tanda kematangan Iman (1 Korintus 14:22; 3:1-3; 14:20-21; 8:7).
7.      Terhadap orang-orang yang begitu menginginkan bias berbahasa Lidah, Paulus menasehatkan agar mereka berusaha memperoleh Karunia-Karunia lain yang lebih utama. Dan Paulus menunjukkan kasih sebagai yang paling utama (1 korintus 13:1, 8).
8.      Secara umum Paulus menasehatkan agar jemaat jangan mudah disesatkan dan yang menerima roh lain atau injil yang lain (2 Korintus 11:3-5).
9.      Paulus mensinyalir bahwa gejala-gejala pementingan bahasa Lidah yang timbul di jemaat Korintus sedikit banyak disebabkan karena potensi-potensi jemaat tidak disalurkan keluar,  sebab itu Paulus menasehatkan agar potensi jemaat (2 Korintus 8:7) disalurkan keluar (2 Korintus 8:9-15).
10.  Sikap kita, mengakui adanya bahasa Lidah karena itu salah satu dari Karunia, dan menolak jika bahasa Lidah dianggap sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus dan Kelahiran Baru.

V. Mengenai Wahyu Penglihatan

1.      Dalam Kitab Suci, Nabi / Rasul adalah penerima Wahyu Penglihatan. Mereka mengalaminya sebagai mimpi dimalam hari walaupun sewaktu sadar di siang hari.
2.      Umumnya Wahyu Penglihatan ini diberikan kepada perorangan, yaitu mereka yang ,elayani YAHWEH Elohim, dan tidak dimengerti oleh orang lain yang bersamanya ketika penerima wahyu itu berlangsung (Daniel 10:7).
3.      Melalui pengalaman ekstatis ini YAHWEH Elohim memberikan pengetahuan baru tentang kebenaran yang akan datang dalam bentuk gambar-gambar yang dapat dilihat.
4.      Isi Wahyu Penglihatan umumnya menyangkut hal-hal sebagai berikut:
4.1.   Hal-hal yang akan segera terjadi (pengungkapan sejarah yang akan datang, 1 Raja-Raja 22:17-19).
4.2.   Perintah YAHWEH Elohim dalam rangka mempersiapkan rencana-Nya (kejadian 46:2).
4.3. Pernyataan kehendak YAHWEH Elohim (2 Samuel 7:1-17).
4.4. Hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan kerajaan YAHWEH Elohim (Kisah Para Rasul 9:3-7).

Kesimpulan

1.      Wahyu Penglihatan adalah kemampuan kesadaran langsung manusia akan realita YAHWEH Elohim sekaligus merupakan cirri ke-Nabian seseorang.
2.      Wahyu Penglihatan diberikan YAHWEH Elohim dalam rangka mengungkapkan kehendak dan rencana-Nya bagi keselamatan umat manusia, jadi dalam kaitan dengan kepentingan Kerajaan YAHWEH Elohim.
3.      Wahyu Penglihatan yang tidak ada kaitannya dengan Firman YAHWEH Elohim dalam kitab suci serta tidak menyangkut rencana YAHWEH Elohim dan keperntingan Kerajaan-Nya, maka wahyu tersebut sangat boleh jadi adalah proyeksi/khayalan atau kejiwaan manusia belaka (sama seperti telepati, sugesti, kemampuan meramal dan sebagainya).
4.      Sebab itu apabila ada wahyu atau ilham-ilham yang datang melalui pembacaan ayat-ayat Kitab Suci yang digunakan sebagai ramalan atau tanda bukti kehendak YAHWEH Elohim, tetapi isinya terutama menyangkut kepentingan dan acara-acara kegiatan manusiawi, maka wahyu-wahyu sejenis itu harus ditolak. Sebab wahyu penglihatan dalam Kitab Suci yang disampaikan oleh para Nabi/Rasul dalam menyatakan kehendak YAHWEH Elohim ternyata tidak sama dengan ilham-ilham ramalan.

VI. Mengenai Penyakit

Terhadap masalah penyakit dan kesembuhan, GPR berpandangan dan bersikap luas dan tidak ekstrim.
1.      Secara mendasar dan menyeluruh dapat dikatakan, bahwa adanya penyakit dan penderitaan adalah disebabkan karena dosa. Tetapi alangkah tidak bijaksananya untuk secara otomatis menghubungkan suatu penyakit/penderitaan tertentu dengan suatu dosa tertentu yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Persoalannya tidak sesempit itu, masih terdapat barbagai kemungkinan lain.
2.      Terdapat beberapa kategori penyakit seperti:
Ada penyakit yang bias disembuhkan, tetapi dapat diatasi (sakit mata;kaca mata, tulituli karena usia uzur. Dll).
Ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat diatasi (kanker, AIDS, dll. Terkecuali Kemurahan Tuhan).
Ada penyakit yang bias disembuhkan, tetapi tidak bias diatas (kematian).
3.      Kesembuhan adalah Karunia dari Tuhan, Tuhan dapat menyampaikan karunia-Nya melalui berbagai jalan yang sesuai dengan kehendak-Nya, secara  Mujizat, usaha medis (Obat-obatan, dll). Tatapi juga ketidaksembuhan tidak otomatis harus ditafsirkan sebagai bukan kehendak Tuhan. Tuhan menuntun hamba-hambaNya melalui liku-liku suka dan duka (Roma 8:28).
4.      Tetap bersyukur kepada Tuhan dalam segala keadaan (1 Tesalonika 5:18). Keselamatan dala Y’Shua Hamashiah tetap menjadi Karunia yang atasnya tetap kita bersyukur, sekalipun penyakit/penderitaan sering kita hadapi. Masa penderitaan senantiasa mengandung nilai-nilai berkat Rohani yang tersendiri. Sebab itu kesembuhan bukan merupakan soal yang terpenting.  Tetapi, ditempatkan dalam kerangka pemberitaan Injil tentang Kerajaan YAHWEH Elohim yang membawa keselamatan bagi umat manusia.
4.1.   Pandangan atau keyakinan yang menyempit dan mutlakkan, bahwa penyakit dan penderitaan adalah hukuman YAHWEH Elohim atas dosa tertentu, sebab penyakit dan penderitaan bisa berarti Karunia (2 korintus 12:9; Filipi 1:29).
4.2.   Anggapan bahwa segala jenis penyakit disebabkan karena adanya benda-benda tertentu yang magis.
4.3.   Sikap yang menempatkan Karunia sebagai prestasi, misalnya bahwa karunia penyembuhan dianggap lebih tinggi dari pada Karunia-Karunia lain dan sekaligus merupakan usaha manusia yang hebat dan berhasil menempatkan diri sebagai yang lebih tinggi. Keangkuhan rohani semacam ini tidak pada tempatnya dan tidak termasuk dalam kehidupan iman kita.



VII. Mengenal Kekayaan

1.      GPR memahami bahwa setiap manusia yang mengaku percaya memperoleh berkat dan kekayaan surgawi baik secara materi maupun rohani (Wahyu 10:10b; Efesus 1).
2.      Bahwa kemiskinan sewaktu-waktu dapat diijinkan Tuhan terjadi pada orang percaya.
3.      Bahwa kekayaan materi bias diterima oleh siapa saja asal atas kehendak YAHWEH Elohim.
4.      GPR menolak paham yang mengatakan jika seorang miskin pasti dimurkai YAHWEH Elohim atau karena ia berdosa.
5.      GPR mengaku bahwa seseorang bias kaya raya, tetapi menolak paham jika orang percaya Tuhan “harus” kaya raya.

VIII. Mengenal Perpuluhan

1.      Asalnya.
Telah menjadi biasa bahwa penentang-penentang kebenaran ini mengatakan “saya tidak perlu member perpuluhan sebab Ya’Shua telah meniadakan Torat, dank arena persepuluhan terhisab kepada Torat, maka Tuhan tidak lagi menuntut persepuluhan kita”. Sikap ini keliru sama sekali, sebab persepuluhan TIDAK BERASAL DARI TORAT, melainkan berasal dalam perjanjian Anugerah yang diberikan Abraham dan dilayani oleh Imam Besar Melkisedekh, 430 tahun sebelum Torat. Maka persepuluhan TERHISAP KEPADA IMAMAT MELKISEDEKH DAN PERJANJIAN ABRAHAM yang adalah lebih dari pada Imamat lewi dan perjanjian Torat (Teliti, Galtia 3 dan Ibrani 7).
Kejadian 14:18-20, “Maka Melkisedekh, raja salem, itupun membawa roti dan anggur, maka Melkisedekh itu Imam YAHWEH Elohim adanya. Maka dipersembahkan Abraham kepadanya dalam (ASARA DEBAROT) SEPULUH ASA dari pada segala harta bendanya”.
Perjanjian Abraham, Galatia 3:16. “Segala perjanjian itu dijanjikan YAHWEH Elohim kepada Abraham dan kepada benihnya…maka ialah Hamashiah”.
Imamat Melkisedekh, Ibrani 3:1. “Imam Besar yang telah kita akui yaitu Y’Shua.
Ibrani 5:5-10 “Engkaulah menjadi imam selama-lamanya menurut peraturan Melkisedekh.


2.      Apa sebab-sebab perpuluhan penting?
Perpuluhan adalah MILIK TUHAN
2.1    Bilangan 18:24: “Adapun segala perpuluhan bani Israel yang patut DIPERSEMBAHKAN KEPADA TUHAN”.
2.2    Supaya ada makanan dalam Rumah Tuhan, Maleakhi 3:10. ”…dan cobailah Daku dengan demikian, kalau-kalau tiada Aku membuka akan kamu segalapintu langit dan mencurahkan kepadamu berkat YANG TIDAK SEMPAT KAMU TARUH”.
2.3    Tawarikh 31:5-10 “…bahkan berkelimpahan pula sisanya, KARENA TELAH DIBERKATI TUHAN AKAN SEGALA UMATNYA.
2.4    Supaya lima jawatan dapat berfungsi
         Nehemia 10:37-38, “dan dalam sepuluh ada dari pada segala hasil tanah kami kepada orang lewi, dan orang lewi sendiripun akan memungut dalam sepuluh ada pada segala negeri perumahan kami: dan aka nada seorang imam, seorang bani Harun, serta dengan seorang Lewi, apabila orang Lewi itu memungut sepuluh asa, dan segala orang lewi itu akan membawa dalam sepuluh asa daripada segala perpuluhan kedalam Bait Elohim kami, kedalam bilik-bilik gedung Perbendaharaan”. Bandingkan Bilangan 18:26-28, “Peraturan yang telah berlaku di Israel ialah bahwa persepuluhan Israel diperuntukkan bagi orang-orang Lewi, lalu perpuluhan orang-orang Lewi diperuntukkan bagi Imamat Harun.
2.5        Supaya Gereja dapat disempurnakan
Ibrani 7 : memberi persepuluhan adalah terhisab kepada peraturan-peraturan Melkisedekh yang membawa kesempurnaan. Maka kalau kita ingin masuk Gereja sempurna kita harus melaksanakan tanggung jawab Imamat kita, yang berarti kita harus membayar persepuluhan. Bayar persepuluhan akan memperkenankan hati YAHWEH Elohim (Amsal 3:9); akan mencukupkan makanan dalam rumah Tuhan, baik jasmani maupun rohani (Maleakhi 3:10); akan melepaskan 5 jawatan untuk memimpin Tubuh Hamashiah menuju kesempurnaan (Nehemia 10:37-38; Efesus 4:11-13), dan akan mengenapi tanggung jawab kita sebagai imam-imam dalam peraturan Melkisedekh itu.

3.      Perbendaharaan Rumah Tuhan
Nehemia 10:38 : “…membawa dalam sepuluh asa daripada segala perpuluhan itu ke dalam Bait Elohim kami, ke dalam bilik-bilik gedung PERBENDAHARAAN”
Maleakhi 3:10, “Bawalah olehmu akan segala persepuluhan ke dalam PERBENDAHARAAN rumahKu”.
Persepuluhan-persepuluhan diwajibkan disetor di perbendaharaan Rumah Tuhan, yaitu ditempat Tuhan telah tetapkan Namanya (Ulangan 12:5-6; 14:23).
Perbendaharaan Rumah Tuhan adalah tempat sember makanan bagi para pelayan Kemah Sembahyang (2 Tawarikh 31:5-10; Maleakhi 3:10).

4.      Perpuluhan Sebagai Jaminan HIdup Hamba-Hamba Tuhan.
Sebagaiman kita baru lihat dalam bilangan 18:21; perpuluhan-perpuluhan diberikan Tuhan kepada para pelayan Rumah Tuhan. Rasul Paulus telah menguraikan prinsip-prinsip ini kepada sidang Korintus dalam 1 Korintus 9:6-14:
4.1. LASKAR                   : diupah oleh Pemerintah
4.2. PETANI                     : makan dari buah-buahan pekerjaannya.
4.3. GEMBALA               : minum susu dari kawanan lembunya.
4.4. LEMBU                     : makan dari tanah yang dikerjakannya.
4.5. PENENGGALA       : bekerja dengan harapan hasil.
4.6. IMAM                        : mendapat bahagian daripada Rumah Elohim.
Ada beberapa hal yang kita perlu perhatikan dari contoh-contoh ini:
a.       Seorang lascar tidak boleh makan gaji lascar lain.
b.      Seorang petani tidak boleh petik buah dari kebun lain.
c.       Gembala hanya boleh ambil susu dari lembunya sendiri.
d.      Lembu tidak boleh masuk ke kebun lain tuan.
e.       Penenggala tidak mendapat hasil dari usaha tetangga.
f.       Imam hanya mendapat bagian dari Rumah yang dilayaninya.

5.      PEndapatan Hamba Tuhan selain Perpuluhan.
Imamat 2:3 : “Korban sajian selebihnya adalah teruntuk bagi Harun dan anak-anaknya, yakni bagian Maha Kudus dan segala korban api-api TUHAN”.
Bilangan 18:9 : “Inilah bagianmu dari segala persembahan-persembahan yang Maha Kudus itu yaitu”.
II Raja-Raja 12:4-5 : “Adapun segala uang barang-barang yang disucikan …dengan dia juga hendaklah diperbaikinya barang yang rusak pada Rumah…”
II Raja-Raja 12:4-16; Keluaran 35:36; Imamat 10:12-20; Bilangan 3:47-51; Bilangan 5:9-10; 18:8-21; Ulangan  18:3-5. Disamping persepuluhan dan sebahagian hasil perang bagi para pahlawan Rumah Tuhan. Dalam Bilangan 31:25-30 dijelaskan bahwa sepersepuluh (1/50) rampasan diberikan kepada orang-orang Lewi sedangkan imam-imam debagikan seperlima ratus (1/500). Dalam pelaksanaan ini imam-imam telah mendapatkan lebih dari orang-orang Lewi karena jumlah orang Lewi jauh melebihi jumlah Imam.
Maka pendapatan hamba-hamba Tuhan telah terdiri dari:
a.       Pesepuluhan
b.      Sebagian dari Korban-Korban
c.       Hasil Perang.
Kalau kita melaksanakan hal-hal ini berdasarkan prinsip-prinsip ini barangkali peraturan dapat digariskan sebagai berikut:
a.       Persepuluhan buat kehidupan hamba-hamba Tuhan.
b.      Korban-Korban sebahagian buat hamba-hamba Tuhan yang barangkali bias dipakai untuk pemberian Gembala, melayani tamu, keperluan darurat, perjalanan-perjalanan dinas yang perlu dibantu.
c.       Hasil Penginjilan : oleh karena Hamba Tuhan dibidang Penginjilan merupakan lascar maupun imam, maka ada bahagian buat Hamba Tuhan yang melayani.

6.      Beberapa Hal Yang Baik kita Ketahui
a.       Y’Shua telah diajarkan bahwa kebenaran persepuluhan itu “JANGAN DITINGGALKAN”, yaitu harus tetap dilaksanakan Matius 23:23; Lukas 11:42.
b.      Kalau tidak menolak persepuluhan -10% itu, maka wajiblah kita bayar 100%. Karena, “kamu bukan milikmu sendiri, karena kamu sudah dibeli dengan harga tunai”. 1 Korintus 6:19-20. Ada baiknya kita sadari hal ini bahwa secara jasmani dan rohani, tubuh, jiwa, dan roh kita telah menjadi milik Hamashiah secara total. Maka itulah hal yang kecil saja untuk membayar persepuluhan. Bandingkan persepuluhan itu dengan harga darah Hamashiah yang telah tebus kita dari dosa maka soal membayar persepuluhan tidak akan sulit lagi.
c.       Bilamana seseorang mempunyai persepuluhan dalam bentuk barang dan sulit dibawah ke Rumah Tuhan, maka kata Firman Tuhan : “bolehlah kamu menukarkan barang-barang itu dengan uang”. Ulangan 14:25.
d.      Apabila persepuluhan ditebus maka Torat menetapkan bahwa harus membayar bunga 20% atas tebusan itu. Maksudnya ada sesuatu barang yang diserahkan sebagai persepuluhan lalu orang itu ingin mendapat kembali barang itu – boleh tetapi, harus ditambah 20% atas harganya. Imamat 27:30-34, “Jikalau barang seorang hendak menebus suatu bahagian persepuluhan hendaklah dipertambahkan dengan seperlima banyaknya.
e.       Guru-Guru berhak menerima bahagian dari sepersepuluh. Galatia 6:6, “Hendaklah orang yang diajarkan Firman itu member sebahagian segala hartanya kepada yang mengajar itu”.
f.       2 Timotius 5:17-18, “Adapun ketua-ketua yang memerintah baik-baik itu, patutlah diberi hormat dua kali ganda, istimewa pula orang yang berusaha memberitakan Firman dan yang MENGAJAR”.
g.      Galatia 3:29, “Jikalau kamu jadi milik Hamashiah, kamulah benih Abraham”. Baik Abraham maupun benihnya adalah orang-orang yang tahu membayar persepuluhan! Ibrani 7:4-10 Adakah saudara milik Hamashiah? Maka saudaralah benih Abraham.
h.       Imamat Harun – Lewi telah membayar persepuluhan kepada Imamat Melkisedekh dengan jalan Abraham, Ibrani 7:4-10.

7.      Persepuluhan Dan Iman
Perlu kami tegaskan bahwa persepuluhan adalah perbuatan iman dan bukan perbuatan torat. Persepuluhan tidak dilaksanakan karena perintah Torat melainkan karena kitalah anak-anak Abraham, pelaksana pertama pesepuluhan, bapa segala orang beriman. Maka kita membayar persepuluhan berdasarkan iman. Sebagimana Yakobus katakana, Denikianlah juga iman, jikalau tidak disertai perbuatan, matilah ia sendiri (Yakobus 2:17). Maka kesetiaan membayar persepuluhan adalah suatu ekspresi iman kita. Rasul Paulus juga mengatakan kepada orang-orang Roma, barang sesuatu yang tiada beralaskan iman itu dosa (Roma 14:23). Maka membayar persepuluhan tanpa iman adalah sia-sia persepuluhan tidak dapat diperdagangkan seperti sering terjadi pada hari-hari ini. Misalnya seorang berkata bahwa minggu ini dia akan membayar persepuluhan kalau untung tokonya. Hal ini bukan berdasarkan iman melainkan mempermainkan kebenaran Firman YAHWEH Elohim dan tidak dapat dibenarkan YAHWEH Elohim. Persepuluhan dibayar bukan untuk mencari untung melainkan dengan iman bahwa kesetiaan melaksanakan kebenaran ini akan menghormati Tuhan (Amsal 3:9). Kalau persepuluhan hanya dibayar untuk mencari untung hal itu menyatakan sifat tamak akan uang yang Alkitab sebut sebagai akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Maka member pesepuluhan dengan iman bukan buat berkat atau untung yang diterima melainkan dengan kasih dan iman kepada Pemberi Berkat yaitu Tuhan Y’Shuah Hamashiah. Kita perlu mencari pemberi berkat dan bukan berkat itu, namun Tuhan sudah janjiakn berkat yang berkelimpahan kepada mereka yang setia member dengan iman. Maleakhi 3:10, “berikanlah niscahya, maka kepada kamupun akan diberi suatu sukatan yang betul, ditekan-tekan, dan digoncang-goncang sehingga tumbuh keluar, Akan diberi orang kepada rimbaanmu karena dengan sukatan yang kamu menyukat akan disukatkan kepada kamu. Menurut apa yang dihamburkan dengan iman, maka itulah yang akan dituai”.










A.     TATA IBADAH

TATA IBADAH GEREJA PIMPINAN ROHULKUDUS


1.      Votum : Ibadah ditahbiskan oleh Gembala:
Ezrenu be’shem YAHWEH, ose shamayim waarets.
Bahwasanya pertolongan kita adalah dalam nama YAHWEH yang menciptakan langit dan bumi, Turutlah keatasmu di dalam nama Tuhan Y’Shuah Hamashiah, Amin.
2.      MC *Nyanyian Pembuka
3.      Doa Pembukaan/selesai doa dilangsungkan dengan membaca Ikrar Iman Rasuli dan sepuluh perintah Tuhan.
4.      Pujian
5.      Kesaksian
6.      Pujian Penyembahan
7.      Firman Tuhan
8.      Penyembahan
9.      Persembahan/Kolektan
10.  Pengumuman
11.  Doa syafaat diakhiri dengan Doa Bapa kami dalam bahasa Ibrani
12.  Doa Berkat oleh Gembala Sidang atau Hamba Tuhan yang membawa Firman
Yivarekha YAHWEH we’yishmerekha (YAHWEH memberkati engkau dan melindungi engkau)
Yaer YAHWEH panaiv eleikha wikhunekha (YAHWEH menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia)
(YAHWEH menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia)
Yisa YAHWEH panaiv eleikha we’yashem lekha shalom (YAHWEH menghadapkan wajah-Nya kepada mu dan member engkau damai sejahtera)
13.  Pujian Penutup Bapa Terima Kasih (lbr : Abi Toda Raba)
14.  Gembala dan Pengurus Gereja meju kedepan menyongsong dan memberi salam jemaat. Jemaat dipersilahkan pulang kerumah masing-masing.

TUHAN MEMBERKATI
HODU LADONAI












Bersama Gereja-Gereja segala abad diseluruh bumi, marilah kita mengucapkan Ikrar Iman Rasuli:


IKRAR IMAN RASULI

·         Aku percaya kepada YAHWEH Elohim, Bapa Yang Maha Kuasa Khalik langit dan bumi.
·         Dan kepada Y’Shuah Hamashiah anak-Nya Yang Tunggal Tuhan kita. Yang dikandung dari pada Roh Kudus, lahir dari anak darah maria, yang menderita sengsara dibawah Pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun kedalam kerajaan maut, naik ke surge duduk disebelah kanan YAHWEH Bapa Yang Maha Kuasa. Dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
·         Aku percaya kepada Roh Kudus, Penolong dan Penghibur, Penuntun pada Kebenaran. Aku mengakui Gereja Yang Kudus, Persekutuan  orang Kudus, Pengampunan dosa, Kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal… Amin


SELESAI